
Selama menunggu sampai putra saya sembuh betul, saya pinjam 2 buku tebal dari perpustakaan kota, 2 buku biografi wanita (sekarang saya memang cenderung nggak terlalu telaten baca novel atau cerpen ... kenapa ya ???). Seru, cuma belum selesai ... eeehhh ketika kemarin jalan-jalan dengan putra saya ke toko buku .... sontak mata tertarik melihat sebuah buku judulnya Montessori für zu Hause (Montessori untuk di rumah) tadinya nggak niat beli, tapi setelah dibaca koq ingin tahu sampai selesai. Jadi dibeli deh itu buku .... karena buku itu tidak setebal biografi yang dipinjam sebelumnya, buku itu malah selesai dilahap lebih dulu. Saya tulis sedikit tentangnya ya ...
Saya sebagai ibu atau mungkin sebagian besar ibu-ibu yang lain, terkadang khawatir apakah gaya pendidikan yang dipilih terbaik untuk anak-anak, sesuai kebutuhan anak-anak dan kondusif untuk masyarakat sekitar. Di zaman derasnya arus informasi seperti sekarang, tampaknya ibu-ibu juga menjadi rentan informasi membuat hati menjadi ragu dan tidak yakin. Membuat si ibu berusaha mencari informasi dan menyelediki lebih dalam tentang pendidikan ... seperti saya ... hehehe.
Pergelutan pertanyaan seperti ini ternyata juga dirasakan oleh seorang perempuan Itali, Maria Montessori di tahun 1900-an. Di mana sejak tahun 1860, 3/4 anak Itali buta huruf karena mereka lebih memilih mencari sesuap nasi untuk membantu orang tua mereka daripada pergi belajar ke sekolah, mengingat kondisi ekonomi Itali saat itu yang super sulit. Sedangkan bagi yang beruntung bersekolah, tipe pendidikan saat itu sangat kaku dan streng. Ditambah bagi perempuan, menikmati pendidikan yang lebih tinggi adalah terlarang, membuat suasana pendidikan sangat runyam. Kemudian tahun 1870, lahirlah Maria Montessori, sebagai perempuan istimewa dan pintar, bahkan sudah sejak dini ia memperlihatkan kemampuan berpikir secara mandiri dan kritis.
Hal itu pula yang membuatnya berhasil menikmati studi kedokteran yang saat itu sebetulnya hanya diperuntukan bagi laki-laki sehingga menelurkannya sebagai dokter Itali perempuan pertama. Dalam kegiatan praktek kedokterannya, Maria banyak berhubungan dengan psikiatri anak-anak cacat dan sehat. Hal itulah awal ketertarikannya akan dunia pedagogi. Ia saat itu dapat menangkap 'kelaparan akan permainan', yang anak-anak butuhkan. Sehingga mulailah ia mengembangkan bahan-bahan permainan yang menstimulasi kemampuan sensorik dan motorik anak.
Pokok penggerak pemikirannya adalah : 1. Perubahan itu mungkin, hanya kita perlu memulainya. 2. Kita harus mencintai anak, tapi cinta tidak saja cukup, kita juga harus memberikan kegiatan untuk anak. 3. Tujuan dari pendidikan terletak dalam diri anak itu sendiri.
Dari penggerak pemikiran ini, ia mengembangkan 3 aspek dasar pendidikan, yakni:
1. Gambaran manusia Hal ini juga pernah saya
pikirkan, karena seperti pengalaman saya. Semakin saya memikirkan
pendidikan bagaimana yang saya inginkan untuk anak-anak saya, semakin
jelas bagi saya bahwa pemikiran itu akhirnya bermuara pada pedoman hidup yang saya maknai.
Bagi pendidikan ala Montessori, manusia adalah makhluk yang aktif beraksi, pintar, mampu berbahasa, kreatif, makhluk sosial, memiliki kesensitifan waktu, emosional, berjeniskelamin, religius dan moralis, sadar akan diri sendiri dan memiliki indera.
Sehingga Maria Montessori dari hasil penyeledikannya mempercayai bahwa anak-anak tidak saja memiliki sifatnya masing-masing tapi juga memiliki perkembangan karakter jiwa yang individual. Orang tua dalam hal ini hanya dapat mengira-ngira rancang bangun individu anak-anak tapi tidak akan pernah berhasil menyelesaikan teka-teki hidup anak-anaknya, karena bagaimanapun rancang bangun ini akan berkembang sendiri berdasarkan pengalaman anak-anak itu sendiri.
Selain itu menurutnya, tugas orang dewasa atau orang tua adalah memberikan lingkungan yang kondusif agar anak dapat tumbuh kembang dan sifatnya hanya membantu agar anak dapat lebih mengerti dan mengenal cara-cara tanpa mempengaruhinya, agar anak tumbuh sesuai dengan dirinya sendiri karena memang setiap dari anak (kita red.) adalah istimewa.
2. Tujuan pendidikan Apakah itu agar si anak mendapatkan sekolah yang baik, mendapatkan pandangan terhormat di masyarakat, menikmati hidupnya, atau keduanya. Tujuan hidup manakah yang lebih penting ??
Menurut Maria Montessori, jawaban tujuan pendidikan ada dalam diri anak itu sendiri, rancang bangun individu setiap manusia harus dibiarkan berkembang agar dengan begitu setiap manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat mengurus yang menjadi tugas kemasyarakatannya.
Bila setiap anak dapat tumbuh kembang secara alami sesuai kebutuhannya, tujuan lainnya akan otomatis mengikuti, seperti terbuka, ramah dan siap menolong, berpartisipasi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, memelihara lingkungan. Demikian juga dengan menjadi mandiri dan matang, berkurangnya sikap buruk dan menjadi manusia yang jujur.
Anak-anak yang berhasil dan aktif melalui fase sensitifnya akan dapat memasuki lingkungan sekitarnya dengan ketertarikan dan penuh penghargaan.
3. Metode Anak-anak adalah pembangun dirinya sendiri, selain itu mereka memiliki impuls alami untuk mengembangkan dirinya sendiri dan mereka pada dasarnya ingin sebanyak mungkin secara aktif melakukan segala hal sendiri. Kita sebagai orang tua atau dewasa, jangan pernah mengambil alih keinginan itu dan lebih banyak membiarkan anak-anak menyelesaikan kegiatannya sendiri dengan motto 'mandiri dengan melakukannya sendiri'.
Hal itu sangatlah penting, karena anak terlahir dalam dunia dewasa yang penuh dengan efektifitas, fungsionalisasi yang dibuat oleh orang dewasa sedangkan dunia anak-anak lebih didasarkan atas pengalaman. Untuk itu salah satu metodanya melakukan persiapan-persiapan yang memungkinkan anak lebih banyak melakukan kegiatannya sendiri. Misalnya dengan mengatur rumah yang sesuai dengan kebutuhan anak agar leluasa bergerak, memungkinkannya mudah mengambil dan membereskan sendiri mainannya, sehingga anak dapat banyak melakukan kegiatan yang diinginkannya.
Begitulah sedikit gambaran sedikit tentang pendidikan ala Montessori, semoga bermanfaat .... 

 | Terima kasih Mbak... Terkadang orang tua (termasuk saya) berperilaku seolah-olah tahu masa depan anaknya, sehingga semua yang dikerjakan oleh anak harus sesuai dengan program yang telah dirancang orang tua. Saya berpikir, ini jalan yang keliru. Tetapi dengan membiarkan anak berkembang menurut jamannya sendiri juga masih takut dan ragu. Inilah Mbak yang menjadi kegelisahan saya setelah mempunyai anak. Montesorri. Ternya jaman dulu sudah ada yang memikirkannya dan menemukan solusinya. Metode ini yang sedikit banyak membantu orang tua bagaimana berperan dalam perkembangan anak. |
 | makasih review-nya mbak :) btw, itu harga bukuny brp? minat nyari jg nih jadinya :) |
 | kebanyakan pendidikan di jaman kita dulu lebih kearah harus nurut dan patuh kpd ortu dan guru ya mbak, sampai bertanya saja kalau dikelas kadang juga dibatasi...yang membuat kita menjadi manusia kurang exspresive dan cenderung diam dibanding dengan orang dunia barat yang membuat kita kadang kalah dalam berdebat mengajukan keinginan dan saran.Karena mungkin dulunya kita terlalu banyak di-dikte dalam berbagai hal.Padahal kalau kita diberi kebebasan dalam bertindak dan bertanya atau mengajukan usulan, tidak akan mengurangi rasa hormat kita kepada ortu dan guru. bagus bukunya mbak, memberi wawasan dlm dunia tumbuh kembang anak. |
 | cahayahati wrote on May 9, '06, edited on May 9, '06 Karena mungkin dulunya kita terlalu banyak di-dikte dalam berbagai hal  Iya .... tampaknya memang begitu mbak Indri ... sayang ya tapi insya Allah generasi mendatang kita lebih baik lagi ... |
 | keren bukunya mbak.. Ada yg versi indonesia ga ya? :) mmg seringkali orang tua "terjebak" berusaha membentuk anak seperti yang diidealkan orang tua ya.. Padahal belum tentu itu sesuai dengan kemampuan & keinginan anak. Fuuuihh...Semoga aku bisa memfasilitasi Vari dengan baik... |
 | Maksudnya, pendidikan ala Montessori ini untuk dipraktekkan ortu di rumah? Lalu sinerginya dgn konsep pendidikan sekolah gimana Mbak? Tau sendiri deh sistem sekolah di Ina (sekolah biasa, loh, bukan sekolah2 plus yg mahal2 tea). Ketika anak2 menjalani 'sistem pendidikan' ideal di rumah, lalu di sekolah menemukan kebijakan otoriter para guru, bisa2 mrk akan malas sekolah atau malah jadi pemberontak di sekolah, iya kan? Ini pula yg saya khawatirkan dgn sistem Sekolah Alam yg lagi populer di Ina. Ketika SD mrk terbiasa dgn sistem sekolah yg 'membebaskan kreativitas', nanti SMP-SMA-Univ, mrk akan ketemu dgn sistem 'otoriter'..wah, bisa terguncang kali ya...
|
 | Wah, menarik nih bukunya mba..Dari Mayersche kah? Sebelumnya ada juga buku menarik dari Bibliothek ttg Montessori yang aku pernah pinjam. Isinya juga bagus deh, tentang dialog anak dengan orangtua dan pandangan penulis dari sisi prinsip Montessori. Tapi judulnya lupa lagi..;) Di Indonesia ada juga buku Montessori. Kebetulan ada nih di rumah; Metode Pengajaran Montessori untuk Anak Pra-Sekolah ditulis oleh Elizabeth G.Hainstock. Tapi ngga janji apa masih ada ya..:) |
 | mvlia wrote on May 11, '06 wah.....aku telat bacanya,.... bentar2... |
 | cahayahati wrote on May 11, '06, edited on May 11, '06 Wah, menarik nih bukunya mba..Dari Mayersche kah? Sebelumnya ada juga buku menarik dari Bibliothek ttg Montessori yang aku pernah pinjam. Isinya juga bagus deh, tentang dialog anak dengan orangtua dan pandangan penulis dari sisi prinsip Montessori.  Iya Fit dari Mayersche .... Danke infonya ya ...
Gimana dengan Märchenstundenya, lebih menarik mana yang di Bücherinsel atau di Bibliothek ??? |
 | mbak Anky, apakah treatment yang diperoleh orang tua pada saat mereka masih anak-anak atau remaja bisa mempengaruhi gaya mereka dalam mendidik anak2nya?
|
 | mvlia wrote on May 14, '06 wah mbak, sekali lagi aku baca nh jurnal jadi kepengen baca bukunya jg.... ---meskipun belum jadi ibu2...hehe--- |
 | mvlia wrote on May 14, '06 eh tapi tuh bukan in indonesian or english yah?! |
 | "Bagi pendidikan ala Montessori, manusia adalah makhluk yang aktif beraksi, pintar, mampu berbahasa, kreatif, makhluk sosial, memiliki kesensitifan waktu, emosional, berjeniskelamin, religius dan moralis, sadar akan diri sendiri dan memiliki indera."
Setuju mbak Anky dengan ini,....sayangnya pendidikan ala Montessori masih sangat mahal di Indonesia, semoga saja kita sebagai ibunya bisa mendidik anak2 kita dengan cara seperti ini dengan dimulai dari pendidikan di rumah, untuk melengkapi pendidikan yang mereka dapatkan di sekolahnya kelak.
Btw, mbak Fitri, kalo udah ketemu buku yang versi Indonesia boleh pinjem dong....thanks ya sebelumnya
Buat Mbak Anky juga, thanks berat, tulisannya sangat bermanfaat |
 | cahayahati wrote on May 14, '06, edited on May 14, '06 sayangnya pendidikan ala Montessori masih sangat mahal di Indonesia  Waaahhh .... memang kayaknya bagi aku juga, kalau masukkan anak-anak ke sekolah Montessori di Indonesia mah hanya mimpi deh ... berusaha realistis saja masuk SD Negeri, di rumah saja berusaha nambal sulam deh ... Di Jerman juga nggak tahan nunggunya soalnya panjang bener daftar tunggunya. |
 | Anky, ini yg membuat jauh di lubuk hati sy pengen skl buat sekolah Montessori yg terjangkau di Indo, ada semacam tanggung jawab sbg salah seorang lulusan sekolah Montessori di Canada ini ya itu untuk menghapus slh satu stereotip bhw Montessori adl sekolah mahal. Sekolah saya di http://www.montessoritraining.net. mumpung di Canada sini saya lalap semuanya untuk bekal sharing di Indo nanti. |
 | I'm a montessori teacher, Thanks for the info...seneng banget kalo semua ibu-ibu bisa nerapin montessori homenya buat konsistensi..karena usia 3-6 taun anak masih absorbent minds, dia butuh konsistensi...montessori at home kan ga perlu biaya besar..selain mendidik anak kan sekaligus membuat ortu mengerti tentang early childhood education yang simple.... |
 | boleh minta e-mailnya? pengen ngobrol2 nih.. :D
|
| |